Monthly Archives: February 2011

Agar Tidak Mati Gaya dalam Menulis

Assalaamu’alaikum. Salam kenal Pak Jonru. Saya memang bukanlah seorang penulis. Tapi entah kenapa saya selalu merasa tertarik mengikuti segala hal yang berkaitan dengan dunia kepenulisan. Malah belakangan ini mulai timbul keinginan untuk belajar menulis.

Setelah saya membuat suatu tulisan, timbullah beberapa pertanyaan:

  1. Bagaimana cara mengetahui bahwa hasil tulisan tersebut sudah layak atau belum?
  2. Bagaimana cara mengembangkan tulisan? Karena biasanya, saya cuma bisa membuat tulisan sepanjang tiga halaman. Setelah itu mati gaya :)
  3. Saat ingin membuat tulisan dalam bentuk cerpen, biasanya saya dihadapkan pada keterbatasan dalam membuat percakapan-percakapan. Akhirnya saya tetap menulis. Namun tulisannya berbentuk artikel, bukan cerpen.

Bagaimana solusinya Pak? Sebelumnya terima kasih. Wassalam.

Pengirim: Lia (32 tahun, Jakarta, dari Contact Form)

Agar Tulisan Tidak Melebar ke Mana-mana

Pak Jonru, ,saya ingin mendapatkan solusi terbaik buat saya. Buku kecil saya selalu penuh dengan judul-judul baru dan selalu saya tuliskan dalam buku kecil saya. Dan bila timbul ide baru ataupun inti cerita, selalu saya tuliskan dan simpan. Masalahnya, saya mempunyai judul baru dan sebagai permulaan saya ingin membuat cerpen dan saya mengumpulkan cerpen-cerpen dari koran ataupun majalah lain,  dan sampai buku Goris Keraf yang mengajarkan harus menggunakan tata bahasa dan EYD sebagai bahan acuan. Akan tetapi, setiap kali mulai menulis, apa kata-kata yang harus keluar dari otak saya dan dituangkan dalam bentuk tulisan. Topik dan ide ada, dan ibarat kata otak saya penuh dengan maksud cerita tersebut. Dan akhirnya saya tidak bisa menulis. Semakin dipaksakan malah jadi kabur semuanya. Dan ujungnya kepala saya jadi pusing. Sampai sekarang saya belum menulis lagi. Saya membaca tentang Kiat Menulis Bebas, di mana pelanggaran dapat diberlakukan dalam penulisan. Tahu begitu, sudah dari dulu saya langgar. Dari setiap buku yang saya baca, diharuskan membuat outline. Saya memcoba membuat outline, tapi saat menulis sering menjauh dari outline tersebut dan hasilnya error. Jalan cerita meluas.

Pengirim: Irene (29 tahun, Bogor, dari Contact Form)

Bagaimana Caranya agar Menulis Jadi Menyenangkan?

Bang Jonru, saya ingin bertanya. Apa yang membuat menulis itu menyenangkan, dan bagaimana supaya menulis jadi sangat menyenangkan? Terima kasih atas jawabannya.

Pengirim: Ari (20 tahun, Yogyakarta, dari Contact Form)

Dalam Menulis, Haruskah Kita Selalu Jujur?

Bagaimana menulis yang baik itu? Misalkan kita menulis tentang suatu kejadian/peristiwa dalam rumah tangga kita. Apakah harus ditulis sesuai dengan kondisi hati kita (jujur)? Atau bolehkah dilebih-lebihkan agar pembaca berpikir bahwa kondisi keluarga kita seperti apa yang kita tulis, padahal tidak?

Pengirim: Amin (38 tahun, Tangerang, dari Contact Form)

La Tahzan for Students

LaTahzanforStudentsAlumni Writers Academy (d/h Sekolah-Menulis Online) kembali menelurkan karya. Kali ini Lisman Suryanegara, Rose FN dan sejumlah penulis lain yang tergabung dalam Forum Lingkar Pena Jepang, menerbitkan sebuah buku berjudul La Tahzan for Students.

Buku yang diterbitkan oleh Lingkar Pena Publishing House ini mengisahkan perjuangan para pelajar Indonesia dalam menuntut ilmu di negeri Jepang. Ide berawal dari kegundahan seorang pelajar yang sering menghadapi rintangan selama kuliahnya. Dengan maksud berbagi semangat dalam belajar, dia mengajak beberapa pelajar dan mantan pelajar di Jepang untuk bergabung menuliskan kisah perjuangan mereka.

Ellipse-ellipse Membantu Mengembangkan Ide Tulisan

Hai, apa kabar? Pernah mendengar kata ellipse? Tepat sekali! Itu diajarkan waktu kita duduk di Sekolah Dasar. Ketika itu, guru kita mengajarkan tentang bentuk-bentuk gambar seperti, segi tiga, segi empat, kubus, empat persegi panjang, jajaran genjang, lingkaran, dan ellipse. Ellipse adalah bulatan panjang. Orang sering menyebutnya sebagai bentuk “lonjong”.

Lalu apa hubungannya dengan menulis?

Switch to mobile version