Oleh: Riandi
Krisis ekonomi melanda AS dan kemudian pelan tapi pasti berlanjut secara global. Hingga saat ini belum ada tanda-tanda pemulihan. Hanya perasaan optimisme yang membuat mampu bertahan menghadapi krisis tersebut. Menurut kompas penyebab dari krisis ekonomi AS adalah penumpukan hutang nasional yang mencapai 8.98 triliun USD, pengurangan pajak korporasi, pembengkakan biaya perang Irak dan Afghanistan, dan yang paling krusial adalah Subprime Mortgage. Kerugian surat berharga property sehingga
membangkrutkan Lehman Brothers, Merryl Lynch, Goldman Sachs, Northern Rock,UBS, Mitsubishi UF.
Kemudian baru-baru ini General Motors sebagai perusahaan pembuat mobil terbesar Amerika juga menyatakan diri bangkrut. Berkas permohonan bangkrut setebal 11 bab itu merupakan sejarah kebangkrutan terbesar ketiga di Amerika setelah runtuhnya lembaga keuangan Lehmann Brothers dan raksasa telekomunikasi WorldCom. Angka penjualan GM menurun drastis akibat dampak krisis keuangan global dan perusahaan itu memperoleh bantuan pemerintah sebesar US$ 20 miliar.
Lantas bagaimana dengan di Indonesia? Krisis keuangan yang menimpa Amerika jelas juga berdampak di Indonesia, seperti harga rupiah yang terus melemah, IHSG yang juga tidak sehat, ekspor diperkirakan juga menjadi terhambat karena perusahaan- perusahaan AS akan melakukan politik banting harga. Sehingga banyak yang pesimis bahwa krisis ekonomi yang terjadi di Indonesia pada tahun 1997/98 akan terjadi lagi.
Akibat krisis ekonomi yang paling merasakan dampaknya adalah para karyawan perusahaan yang terkena imbas krisis ekonomi. PHK tak terhindarkan lagi. Pengurangan karyawan secara besar-besaran dilakukan oleh perusahaan-perusahaan raksasa. Terjadi pengangguran dimana-mana. Langkah ini sudah jelas pasti akan terjadi cepat atau lambat karena pertumbuhan karyawan perusahaan-perusahaan itu terjadi karena pasar yang tumbuh. Ketika pasar menurun dan terus menurun secara tak pasti pendapatan perusahaan pun terus menurun sehingga PHK tak terhindarkan lagi dengan alasan utama penyelamatan perusahaan.
Kemudian akibat lain dari krisis tersebut adalah lemahnya daya beli konsumen sehingga jelas banyak produk yang tidak atau kurang laku di pasar. Konsumen sedang kekurangan uang sehingga pikir-pikir dan pilih-pilih untuk membelanjakan uangnya. Penjualan menurun sudah tentu akibatnya keuntungan juga menurun bagi bisnis. Terjadi efek beruntun yang mirip dengan riak gelombang di air. Yang kalah tidak hanya perusahaan kecil, yang besar-besar pun juga banyak yang terhantam krisis. Ada yang masih bertahan. Banyak yang telah melempar handuk,bangkrut. Akan tetapi meskipun banyak yang kalah tetap ada yang menang di saat krisis. Apple dengan i-Phone, RIM dengan Blackberry merupakan yang menang di saat krisis. Malah memperoleh keuntungan besar karena i-Phone dan Blackberry laris manis di saat krisis.
Meskipun banyak yang pesimis, rasa optimis itu tetap selalu ada. Bill Gates memiliki keyakinan kuat bahwa krisis ekonomi dapat ditaklukkan dengan teknologi. Bill Gates juga menyatakan keyakinannya bahwa kita baru berada pada tahap permulaan revolusi teknologi informasi. Itu artinya kesempatan untuk melakukan inovasi pada saat ini malah lebih besar dari sebelumnya. Optimisme tersebut bukan optimisme kosong. Dengan teknologi jelas banyak hal yang dapat dilakukan untuk menunjang proses pemulihan bahkan pertumbuhan di saat krisis ekonomi.
Hal pertama yang menjadi sebab keunggulan teknologi untuk menaklukkan krisis adalah marketing dengan biaya rendah. Dengan teknologi informasi maka salah satu unsur dari bisnis yaitu marketing dapat dilakukan dengan biaya yang lebih rendah dengan daya jangkau yang sangat luas. Internet merupakan teknologi yang justru makin pesat perkembangannya karena krisis. Internet memiliki jangkauan yang lebih luas dari media konvensional seperti televisi dan koran. Pada saat ini ketika anggaran untuk hal lain turun justru kebutuhan untuk memperoleh informasi semakin besar. Orang justru makin tertarik mengakses informasi tentang krisis ekonomi dan berbagai hal lainnya lewat internet.
Resesi ekonomi memaksa sebagian rumah tangga memperkencang ikat pinggang. Namun berdasarkan penelitian terbaru bertajuk Digital Families Report yang dibesut operator mobile O2, sekitar 11 juta keluarga di Inggris lebih memilih mengorbankan makanan untuk dihemat ketimbang internet. Barangkali karena sudah terlanjur cinta mati pada dunia maya, banyak keluarga di Inggris tak rela menghemat pengeluaran untuk internet. Malah mereka lebih memilih mengorbankan pengeluaran untuk makanan saja. Perusahaan-perusahaan pun demikian. Ada kesadaran bahwa informasi merupakan hal yang sangat perlu untuk dapat terus bertahan bahkan tumbuh melewati krisis. Anggaran untuk IT tidak berkurang bahkan banyak yang meningkatkannya agar tetap mampu bersaing. Dengan demikian untuk memasarkan produk menjadi semakin mudah dengan biaya yang semakin murah serta jangkauan yang semakin luas.
Hal kedua yang menjanjikan dari teknologi adalah dengan informasi yang memadai maka kemampuan bagi bisnis untuk mengerti kebutuhan konsumen / trend juga semakin tajam dan presisi. Terutama lewat internet dapat diketahui apa yang paling sering dicari orang sebagai trend yang dapat diantisipasi dan dijadikan prediksi. Salah satu keunggulan Research In Motion dengan Blackberry adalah layanan pushmail. Konsumen sejati Blackberry adalah yang mengerti teknologi mempunyai keinginan untuk dapat menerima dan mengirim email dari ponsel yang praktis. Tanpa perlu komputer lagi. RIM mengerti kebutuhan ini dan menyediakan ponsel sekaligus layanan pushmail nya. Konsumen merasakan kemudahan terima kirim email lewat ponsel Blackberry tanpa harus konek ke internet lewat komputer atau laptop yang masih kurang praktis. Terima kirim email dimana saja kapan saja semudah terima kirim SMS menjadi hal yang diinginkan konsumen. Karena RIM mengerti kebutuhan konsumen tersebut jelas tidak heran kalau ponsel Blackberry yang meskipun harganya tidak bisa dikatakan murah alias mahal laris diserbu pembeli. Padahal lima tahun yang lalu ketika email belum booming, menjual perangkat Blackberry susahnya setengah mati. Kalau sekarang lain cerita. RIM sedang menikmati kemenangannya. Bahkan dapat menggerogoti pangsa pasar ponsel cerdas Nokia.
Menghadapi Blackberry, satu hal yang merupakan ancaman serius dilancarkan oleh Nokia. Benar-benar ancaman serius karena Nokia pun akhirnya menyediakan layanan pushmail secara gratis. Kemudian dari pilihan ponsel yang dapat menggunakan layanan pushmail ovi mail dari Nokia tadi demikian luar biasa. Mengapa luar biasa, karena pushmail Nokia dapat digunakan pada ponsel low-end berbasis java J2ME Nokia yang harganya relatif murah meriah. Hanya menggunakan ponsel murah sudah dapat terima kirim email langsung dari ponsel. Apalagi dengan ponsel mid-end dan high-end Nokia bersistem operasi terbuka Symbian yang harganya bahkan masih lebih murah dari Blackberry, fungsi pushmail lebih maksimal. Disini jelas strategi baru Nokia itu berpotensi besar untuk menumbangkan kejayaan Research In Motion sebagai produsen Blackberry. Dua hal yang tak dimiliki Blackberry yang diserang langsung oleh Nokia. Yaitu, layanan pushmail gratis dan ponsel pendukung yang murah. Sedangkan pushmail Blackberry tidak gratis alias berbayar dengan cara berlangganan lewat operator. Belum lagi harga ponsel Blackberry yang tidak murah. Dua faktor itu tadi yang dengan jitu ditembak oleh Nokia. Jelas untuk ke depan nanti justru RIM yang akan kerepotan bersaing melawan Nokia.
Hal ketiga yang menjadikan teknologi sebagai primadona di tengah krisis ekonomi adalah efisiensi,
penghematan, efektifitas operasional. Bisnis yang lebih hemat energi, hemat peralatan dan dapat beroperasi lebih cepat,sehingga hemat biaya menjadi salah satu faktor penentu untuk bertahan, tumbuh di saat krisis. Sudah tidak masanya lagi bisnis yang tambun, tidak efisien, boros dan lamban untuk terus hidup. Meskipun memang pada saat sebelum krisis banyak bisnis yang demikian. Karena pertumbuhan ekonomi yang bubble mengakibatkan banyak bisnis yang terkatrol. Entah itu karena pasar itu sendiri ataupun karena proteksi politik. Terjadinya krisis akan menunjukkan siapa sebenarnya yang berbisnis dan siapa yang cuma sebagai penggembira. Bisnis yang tidak layak akan mati sendiri. Krisis ekonomi yang terjadi telah menyingkap kebobrokan yang ada. Sedangkan bisnis yang memang layak akan terus tumbuh. Pasar yang menerima. Bukan akibat katrolan dari politik yang dipaksakan.
Pada akhirnya baik itu individu maupun organisasi bisnis akan dihadapkan pada pilihan mau tidak mau harus menggunakan teknologi untuk dapat bertahan serta tumbuh di tengah krisis ekonomi. Jika masih terpaku pada cara lama pola pikir lama maka sudah jelas akan terlindas oleh krisis yang kejam dan tak kenal ampun ini. Pilihan terdapat individu serta organisasi itu sendiri untuk lebih memaksimalkan teknologi guna menaklukkan krisis ekonomi.
Riandi (ryandy2009.blogspot.com) ( This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it ). Penulis adalah guru swasta mengajar di SMA PGRI Piasak, Selimbau, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, Indonesia Hp. 081352471543
| Comments |
|






