Setiap Mei kita memperingati Bulan Buku Nasional dan Hari Buku Nasional. Lalu makna apa yang terkandung di dalamnya? Buku berfungsi sebagai penyimpan dan sumber pengetahuan. Dengan banyak membaca buku, pengetahuan dan wawasan seseorang akan bertambah. Membaca buku sangat penting untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Namun membaca, terlebih menulis kurang diminati. Bahkan di kalangan dosen dan guru pun minat membaca dan menulis sangat memprihatinkan. Hanya sedikit dari mereka yang menulis dan mempublikasikan karya mereka. Kalaupun mereka mau menulis, biasanya hanya untuk mendapatkan angka kredit kumulatif yang berguna untuk mencapai kenaikan jenjang
kepangkatan.
Karier dosen dan guru sebenarnya sangat ditentukan oleh kepiawaiannya menulis. Semakin mereka mahir menulis semakin besar peluang mereka meningkatkan karier. Peranan mereka sebagai pendidik pun lebih
efektif. Namun sebagian besar dari mereka justru tidak terbiasa menyampaikan gagasan lewat tulisan. Sangat disayangkan jika banyak dosen dan guru yang kariernya terhambat hanya karena tidak bisa
menghasilkan karya tulis. Padahal menulis adalah cara ilmuwan berkomunikasi. Betapa menyedihkan jika di kalangan sekolah atau perguruan tinggi kebiasaan menulis tidak menjadi kebiasaan. Kaum intelektual menjadi canggung menulis. Hal ini bisa dianalogikan seperti petani yang canggung mencangkul atau nelayan yang tidak becus menebar jala. Sampai saat ini menulis masih menjadi momok di kalangan dosen dan guru yang menular pada anak-anak didik mereka. Lebih parah lagi jika mereka menjadi pembimbing penulisan karya ilmiah. Bayangkan betapa kacaunya suatu karya ilmiah jika dibimbing oleh dosen yang
tidak piawai menulis. Hal ini menyebabkan banyak karya ilmiah yang tidak berbobot muncul dan nasib “karya ilmiah” tersebut hampir sama dengan sampah karena tidak akan pernah dibaca apalagi dipakai orang
sebagai acuan.
Mengapa banyak dosen dan guru sulit atau tidak berminat menulis? Ada
beberapa alasan yang biasa diajukan mereka.
1. Tidak ada waktu
Kesibukkan mengajar karena mengampu banyak mata kuliah/pelajaran menjadi alasan yang paling banyak diajukan. Ada yang beralasan waktu mereka habis untuk nyambi (kerja paruh waktu) di luar jam kerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Alasan tidak ada waktu untuk menulis sekilas tampak masuk akal. Namun bukankah kegiatan menulis seperti halnya membaca bisa dilakukan kapan dan dimana saja? Bahkan sekarang ada perangkat lunak komputer, yakni pengolah kata yang sangat menolong pekerjaan menulis. Jadi kendala waktu bisa diatasi dengan pengaturan waktu yang efisien serta adanya kemauan. Lagipula bukankah orang selalu mempunyai waktu untuk melakukan hal-hal yang disukainya.
2. Kurang Membaca
Penyebab dosen dan guru kurang membaca bisa disebabkan dua faktor. Pertama memang minat baca mereka rendah. Kedua karena kurang tersedia bahan bacaan. Kurang membaca menyebabkan mereka kurang mampu berpikir kritis. Dosen dan guru yang kurang mampu berpikir kritis akan sulit
menemukan persoalan yang bisa ditulisnya. Bagi dosen dan guru yang minat bacanya rendah harus menyadari bahwa salah tugas mereka adalah menyebarkan pengetahuan. Kalau mereka malas membaca dengan sendirinya pengetahuan yang bisa mereka ajarkan juga sangat terbatas. Sedangkan
bagi dosen dan guru yang bekerja di daerah yang kurang tersedia bahan bacaan bisa berusaha dengan berbagai cara untuk memperoleh bahan bacaan. Dewasa ini kemajuan teknologi informasi memungkinkan orang untuk mengakses kemana dan apa saja yang dibutuhkan dengan cepat.
3. Menulis Itu Sulit
Banyak dosen dan guru yang merasa sulit menuangkan ide-ide mereka ke dalam karya tulis ilmiah. Untuk bisa menulis –terutama menulis karya ilmiah– memang tidak gampang. Namun menulis adalah keterampilan yang bisa dipelajari dan dilatih asal ada kemauan. Banyak orang beranggapan menulis memerlukan bakat istimewa. Anggapan seperti ini kurang tepat. Belajar menulis sebenarnya seperti halnya orang belajar naik sepeda, setelah mengalami kegagalan demi kegagalan, akhirnya orang bisa mahir juga. Apakah setiap orang agar bisa mahir naik sepeda harus mempunyai bakat khusus? Jawabannya adalah tidak! Bakat memang penting, tetapi yang lebih penting adalah adanya kemauan dan ketekunan untuk menulis.
Dengan kata lain setiap orang yang tidak buta huruf mempunyai potensi untuk menulis. Mengapa tidak ada orang yang beranggapan bahwa berbicara itu perlu bakat dan kemudian mereka tidak mau berbicara
karena merasa tidak memiliki bakat untuk berbicara?
4. Honor Menulis Kecil
Ini adalah alasan yang lazim. Banyak orang berpikir menulis adalah pekerjaan yang memeras otak dengan hasil yang belum pasti, kalaupun ada hasil (honor) relatif kecil. Suatu karya tulis baik yang bersifat
ilmiah maupun non ilmiah untuk bisa dimuat di majalah atau harian memang sulit. Lebih-lebih bagi penulis pemula atau nama penulis belum dikenal luas. Kalaupun dimuat honor yang didapat kecil. Pendapat
mungkin ada benarnya. Namun demikian menulis tetap penting khususnya bagi dosen dan guru. Di negeri Paman Sam ada dua moto yang sangat terkenal, yakni Publish or Perish dan All scientists are the same,
until one of them writes a book. Jadi menulis merupakan prestasi akademis disamping prestasi pribadi. Tanpa menulis, banyak ide-ide cemerlang gugur. Pembangunan nasional dan usaha mencerdaskan bangsa
pun terhambat. Para dosen dan guru seyogyanya benar-benar menyadari arti penting menulis.
4. Karya Tulis Tidak Dimuat
Ada beberapa dosen dan guru yang mencoba membuat karya tulis dan mengirimkannya ke redaksi harian dan atau majalah. Setelah beberapa kali mengirim karya tulis mereka tanpa ada satu pun yang dimuat, maka mereka menjadi putus asa. Akhirnya hilanglah hasrat untuk menulis. Padahal jika mereka mau menulis terus, pasti suatu saat mereka akan berhasil menjadi penulis yang handal.
Kendala dosen dan guru untuk menulis memang ada. Namun kendala-kendala tersebut bisa diatasi dengan kemauan yang keras untuk berprestasi. Menulis mestinya tidak menjadi momok bagi dosen dan guru.
Sudah seharusnya dosen dan guru mengembangkan budaya menulis untuk kemajuan pendidikan nasional. Dosen dan guru yang tidak piawai menulis ibarat pohon yang tidak menghasilkan buah. Para mahasiswa dan siswa tidak akan bisa belajar banyak dari pendidik seperti ini. Lebih celaka lagi bagi mahasiswa jika dosen yang tidak paham kaidah-kaidah menulis menjadi dosen pembimbing penulisan karya ilmiah.
Peng Kheng Sun
Penulis Buku Jadilah Kreatif
| Comments |
|





