Perlukah Mengirim Tulisan ke Media yang Honornya Kecil?

honor_kecil

Ide tulisan ini berawal dari sebuah diskusi dari Story Teenlit Magazine di Facebook. Seorang teman bernama Mimi Aira bertanya:

Apa yang akan Anda lakukan jika ada sebuah majalah memberitahu kalau cerpen kita akan diterbitkan dengan honor (maaf) minim? Majalah tersebut juga minta untuk menerbitkan cerpen kita setiap majalahnya terbit. Apakah Anda akan terus mengirim tulisan ke majalah tersebut?

Pertanyaan ini dengan cepat mengundang diskusi yang seru dari para anggota group, termasuk para penulis senior seperti Donatus A. Nugroho, Reni Erina, Palris Jaya, Achi TM, dan beberapa nama lainnya.

Memang, sejujurnya harus kita akui bahwa ada sejumlah penulis yang menjadikan uang sebagai pertimbangan utama ketika mereka “menjual” naskah ke pihak lain. Setiap kali mengirim naskah ke media cetak misalnya, pertanyaan pertama yang mereka ajukan adalah, “Berapa honornya?” Kalau ternyata kecil, mereka tak jadi mengirim naskah. Kalaupun akhirnya mengirim, itu karena mereka benar-benar sedang butuh uang :-D

Berita baiknya, para penulis yang berdiskusi pada group “Story Teenlit Magazine” tersebut memiliki pandangan yang berbeda. Berikut saya kutip beberapa di antaranya.

Donatus A. Nugroho:

Honor pentinglah. Sangat penting. Dan jangan segan menghargai karya sendiri. Masalahnya kita kudu wise, dan bisa memahami media yang bersangkutan. Kerja sama yang baik, saling pengertian, adalah situasi yang perlu dijaga antara penulis dan penerbit (dan atau sebaliknya).

Reni Erina:

Honor memang penting. Tapi adakalanya eksistensi dan kebersamaan jauh lebih penting dari itu semua.

Palris Jaya:

Menurut saya, honor tetap sangat penting! Dan ketika ada media yang dengan jujur mengatakan honor yang minim, dan meminta kita untuk menulis rutin, itu sangat-sangat penting. Sebab, media itu sangat menghargai kita. Bagi saya itu sebuah kehormatan. Dan kelak, media itu menjadi besar dan utama, andil kita pasti tidak dilupakan. Bandingkan bila ada media baru, memuat karya kita, gak ada omongan. Ketika ditanya honor, seimprit, habis gitu gak bayar-bayar. Bisa saja kita merasa disemena-menakan.

* * *

Teman-teman sekalian,
Dalam pandangan saya, menulis di media massa itu punya tiga tujuan utama:

  1. Portofolio. Semakin banyak tulisan kita yang dimuat di media massa (khususnya media cetak), itu akan makin meningkatkan kredibilitas dan reputasi kita sebagai penulis.
  2. Menjalin hubungan baik dengan media tersebut. Ya, ini tentu sangat jelas. Bila tulisan kita dimuat di media A, artinya hubungan silaturahmi kita dengan media A akan terjalin dengan baik. Bila ada 20 media yang rutin memuat tulisan kita, maka kita punya jaringan dan silaturahmi yang kuat dengan ke-20 media tersebut. Kita harus ingat bahwa hubungan silaturahmi seperti ini jauh lebih bernilai harganya ketimbang honor.
  3. Meniti karir sebagai penulis. Bila tulisan kita dimuat, maka level kita sebagai penulis akan meningkat. Semakin banyak tulisan kita yang dimuat, maka level kita pun akan makin naik. Secara tidak langsung, nama kita sebagai penulis pun makin dikenal.
cerpen_jonru

Salah satu cerpen saya yang dimuat di majalah Story, membuat saya bahagia karena silatirahmi dengan majalah tersebut menjadi semakin baik.

Nah, demikianlah konteksnya bila kita menulis di media massa.

“Jadi honor sama sekali tidak penting, ya?”

Hm, bukan tidak penting. Tentu saja honor itu penting. Kalau saya berkata tidak penting, itu artinya saya munafik. Karena setiap orang pasti butuh uang. Setiap orang termasuk saya, pasti akan senang bila diberi uang.

Tapi seperti pendapat teman-teman penulis yang saya kutip di atas, honor bukanlah segalanya. Bagi seorang penulis pemula, pasti bila naskahnya berhasil dimuat pun sudah sangat senang. Berapa honornya bagi mereka sama sekali tidak penting.

Nanti bila semakin banyak naskah Anda yang dimuat, maka secara perlahan “kelas” Anda akan semakin meningkat. “Daya tawar” Anda di depan media pun semakin kuat. Dan bila “daya tawar” sudah sangat kuat, maka Anda bahkan bisa berkata kepada setiap media, “Saya hanya mau memuat tulisan di media Anda bila honornya sekian juta rupiah.” Walau faktanya Anda tidak tega berkata seperti itu, tapi yang jelas Anda bisa melakukannya bila Anda mau :-D

Intinya, karya kita akan “dihargai mahal” bila kita memang sudah berhasil MEMBUKTIKAN kepada para media bahwa kita memang PANTAS dibayar semahal itu. Jadi daripada sibuk menuntut semua media agar memberikan honor yang mahal untuk tulisan-tulisan kita (padahal menurut mereka kita mungkin belum pantas untuk mendapat honor sebesar itu), alangkah bijaksananya bila kita fokus untuk meningkatkan kualitas diri sebagai penulis.

Bila kualitas kita sudah meningkat, maka tanpa diminta pun semua media akan dengan senang hati membayar naskah kita dengan harga yang pantas.

Reni Erina dalam catatannya di group Story Teenlit Magazine tersebut, menulis:

“….aku teringat masa lalu. Honor kecil, bahkan terkadang hanya dibayar dengan alat tulis atau t-shirt. Sekarang ini aku bisa mematok harga. Sayangnya, aku gak selalu matre. Ada kalanya aku “kerja bakti” untuk meramaikan sebuah majalah, atau buku atau acara. Ada kalanya aku harus “Bebel”.

…Ingat, tak selamanya semua dilihat dari NOMINAL. Bahwa honor adalah sesuatu yang penting. Tetapi sekali lagi, lihat sampai sejauh mana kita bisa disejajarkan dengan nominal….”

Selain itu, ada tiga faktor lain yang perlu kita perhatikan:

PERTAMA:
Tiap media punya kebijakan yang berbeda-beda mengenai besarnya honor. Ada yang hanya sanggup memberikan honor kecil, karena media mereka pun masih kecil. Ada pula media yang berani membayar mahal bahkan untuk penulis pemula sekalipun.

Sebagai penulis kita haruslah menyesuaikan diri dengan kebijakan seperti itu. Kita jangan ngotot meminta honor (misalnya) Rp 1 juta pertulisan pada media yang hanya sanggup membayar (katakanlah) Rp 100 ribu. Seperti yang saya sebutkan di atas, yang paling penting dalam pemuatan naskah di media adalah portofolio, menjalin hubungan baik, dan meniti karir. Cobalah mengirim naskah dengan niat seperti ini. Maka kita tak akan berkecil hati lagi dengan honor yang kecil.

KEDUA:
Semua tergantung konteksnya. Misalkan ada media yang meminta kita mengirim naskah untuk dimuat. Sejak awal dia langsung bicara soal bisnis, keuntungan materi, dan sebagainya. Maka bila berhadapan dengan media seperti ini, tentu SANGAT LAYAK bila kita pun langsung meminta honor yang besar dan tidak bersedia bila dibayar “seadanya”.

Sebaliknya bila ada media yang meminta kita mengirim naskah dengan semangat kekeluargaan, penuh persahabatan, dan untuk mempererat tali silaturahmi, tentu akan sangat terhormat bila kita menyikapinya dengan semangat yang sama dan tidak terlalu perhitungan soal honor.

KETIGA:
Tiap penulis punya orientasi atau pilihan hidup yang berbeda-beda. Ada orang yang menjadikan kegiatan menulis sebagai hobi pengisi waktu luang belaka. Karena itu, honor tulisan bagi mereka tidak terlalu penting. Ada pula penulis yang sumber penghasilan utamanya bukan dari honor tulisan, tapi dari sumber-sumber lain. Ada pula penulis yang memang benar-benar mengandalkan penghasilan utamanya dari honor tulisan di media massa. Intinya, setiap penulis itu beda, tidak bisa disamaratakan. Setiap penulis punya pilihan hidup yang berbeda-beda.

Donatus A. Nugroho

Donatus A. Nugroho

Donatus A. Nugroho adalah contoh penulis yang berhasil membuktikan bahwa dia bisa hidup mapan hanya dari honor tulisan. Dalam diskusi di group Story Teenlit Magazine tersebut, dia menceritakan bahwa dirinya berhasil membeli mobil dan rumah hanya dari honor-honor tulisannya di berbagai media.

Luar biasa? Tentu saja! Sejujurnya saya pun benar-benar “ngiler” mendengar cerita tersebut. Tapi janganlah Anda berpikir bahwa semuanya didapatkan Donatus dengan mudah. Sebab kita juga harus menyadari EMPAT FAKTA PENTING berikut:

  1. Bila kita hanya fokus mengirim tulisan pada satu media, maka kita tak akan pernah kaya dari menulis. Sebab tidak mungkin tulisan kita bisa dimuat pada setiap edisi. Paling banter hanya sekitar sebulan sekali. Sebab yang mengirim tulisan ke media tersebut pasti sangat banyak. Si pengelola media pun tidak akan bersedia bila majalah mereka hanya diisi oleh tulisan-tulisan Anda. Mereka pun ingin memanjakan pembaca dengan berbagai macam tulisan dari beragam penulis.
    .
    Bayangkan bila honor pemuatan tulisan di media tersebut adalah Rp 500.000 pernaskah. Bisakah kita hidup layak hanya dengan uang Rp 500.000 perbulan? Tentu bisa, tapi pasti hidup yang sangat prihatin dan serba kekurangan, hehehe…. :-D
    .
  2. Dari poin 1 di atas, dapat disimbulkan bahwa bila kita mengandalkan penghasilan utama dari honor tulisan di media, maka kita harus berusaha agar tulisan kita bisa dimuat setidaknya 5 hingga 30 kali dalam sebulan. Masih dari poin 1 di atas, kita tak mungkin memuat 5 hingga 30 tulisan perbulan pada satu media saja. Artinya, kita harus mengirim tulisan ke banyak media. Mungkin 10 atau 20 atau 30 atau 40 media!
    .
  3. Agar mencapai kondisi seperti poin 2 di atas, tentu saja kita haruslah sudah berhasil membuktikan kualitas diri sebagai penulis di depan para media. Sebab tak mungkin tulisan kita dimuat setiap hari di berbagai media, bila reputasi kita sebagai penulis masih meragukan. Artinya, agar bisa hidup berkecukupan dari honor tulisan di media, tentu kita harus berjuang dulu untuk menjadi penulis yang kredibel dan punya reputasi baik di depan para media, penerbit, dan seterusnya. Tentu saja, kita harus melewati berbagai macam perjuangan, suka duka dan pengorbanan terlebih dahulu. Sebab semua sukses hanya bisa dicapai bila kita sudah melewati hal-hal seperti  itu.
    .
    Tentu saja, Donatus A. Nugroho telah melewati semua itu. Jadi Anda jangan hanya silau melihat keberhasilan dia saat ini. Tapi lihat, pelajari, dan renungkan bagaimana dulu ketika dia masih berjuang untuk meraih sukses.
    .
  4. Agar bisa memuat tulisan setiap hari di berbagai macam media, tentu saja Anda haruslah menjadi penulis produktif. Dengan kata lain, Anda harus FOKUS di dunia penulisan, menjadikan kegiatan menulis sebagai PEKERJAAN UTAMA Anda. Artinya, Anda harus menjadi full time writer. Sebab tak mungkin kita bisa menjadi seorang yang mendapatkan penghasilan utama dari menulis, bila kita sendiri tidak bersedia berjuang secara sungguh-sungguh untuk menjadi seorang full time writer.

Nah, apakah Anda ingin seperti Donatus A. Nugroho? Bila ya, maka yang harus Anda lakukan adalah fokus dan konsisten di dunia penulisan, dan berjuang agar suatu saat nanti bisa menjadi full time writer. Sebagai bahan referensi, coba Anda baca tulisan yang satu ini.

Sementara bila Anda punya pilihan hidup lain dan tak mau seperti mas Donatus, tentu tidak masalah karena hak setiap orang untuk menentukan pilihan hidup masing-masing.

Saya sendiri, terus terang bukanlah penulis seperti mas Donatus. Sejak tahun 2004 saya bahkan hanya sesekali mengirim tulisan ke media cetak. Saya lebih banyak menulis di internet. Kenapa? Karena saya merasa itulah pilihan hidup yang paling pas buat saya.

“Emang ada penghasilannya kalau menulis di internet?”

Hehehe… jangan salah sangka! Coba baca dulu tulisan yang ini dan yang ini. Sekadar info: Saat ini saya mendapat job untuk menulis empat tulisan di blog pribadi saya, dan tujuh tweet di Twitter, dan bayarannya setara dengan gaji seorang staf senior di perusahaan ternama. Alhamdulillah, sangat lumayan, bukan?

Karena fokus menulis di internet itulah, saya termasuk penulis yang tidak terlalu memikirkan berapa besarnya honor tulisan yang dimuat di media cetak. Bahkan tulisan saya pernah dimuat di sebuah majalah, dan saya tidak mendapat honor. Kenapa? Karena tulisan saya tersebut berisi “iklan terselubung” untuk bisnis kepenulisan yang saya kelola. Jadi wala tidak dibayar, saya merasa senang karena bisa berpromosi secara gratis di sebuah majalah. Sangat lumayan, kan?

NB: PenulisLepas.com termasuk website kepenulisan yang TIDAK membayar honor apapun untuk setiap tulisan yang dimuat. Tapi kami punya konsep bahwa setiap kontributor tulisan di sini diberi kebebasan yang seluas-luasnya untuk mempromosikan diri mereka (secara halus) lewat tulisan-tulisan yang menarik dan bermanfaat bagi para pembaca. Jadi walau tidak dibayar, para penulis Insya Allah tetap mendapat keuntungan dari sisi lain bila menulis di PenulisLepas.com. (*)

NB: Semua kutipan di atas telah diedit seperlunya tanpa mengubah maknanya.

 

Tentang Penulis

Founder PenulisLepas.com, BelajarMenulis.com, Ajangkita.com. Founder & Mentor di Writers Academy (d/h Sekolah-Menulis Online). Penulis buku Cara Dahsyat Menjadi Penulis Hebat dan Menerbitkan Buku Itu Gampang!. PRESTASI: (1) Juara I Lomba Cipta Cerpen Remaja tahun 1984 (majalah Anita Cemerlang), (2) Juara Tahunan (Super Blog) Internet Sehat Blog Award 2009. Tinggal di Jakarta, aktif ngeblog, berwirausaha, menjadi trainer pelatihan penulisan di berbagai kota di Indonesia.

Jonru Ginting sudah menerbitkan 10 tulisan di website ini.

59 Responses to Perlukah Mengirim Tulisan ke Media yang Honornya Kecil?

  1. Katering says:

    terima kasih atas artikelnya gan.

  2. wahyu says:

    minta alamat email media cetak atau elektronik yang bersedia menampung tulisan penulis pemula dong.. Mau belajar kirim-kirim..

  3. Keren! Kagum membaca tentang Om Donatus yang hidup mapan karena honor tulisan. Aku ingin seperti Om Donatus. Semangat! :D

  4. Keren! Kagum membaca tentang Om Donatus yang hidup mapan karena honor tulisan. Aku ingin seperti Om Donatus. Semangat! Bismillah. :D

  5. rahma says:

    saya ingin skali karya saya di postkan di majalah :)

  6. Muh Tahir says:

    tolong fasilitasi, siapa kira2 media massa yang bisa terima tulisan saya sebagai pemula namun tinggi semangatnya apalagi ada honornya.wkwkwk

  7. andaikata kita pemula honor kecil bukanlah menjadi malaah, tpi kalo misalkan nnnti kita sudah terknal dan tulisan serta karya2 kita sepadan dengan harga yg diberikan maka alangkah baiknya juga kita menyetarakan tarif dan juga dengan kecapekan kita membuat naskah artikel tersebut..

  8. reycinta olivia says:

    Honor memang penting tapi lebih penting lagi, rasa kepuasan diri melihat tulisan kita bisa dinikmati oleh pembaca. Tulisan pertama saya terpampang di majalah sekolah yang setiap bulannya dulu honor cukup untuk uang jajan dan nraktir temen-temen, sekarang saya merindukan masa-masa itu dimana bukan honor yang dijadikan patokan tapi kepuasan saat pembaca semua menyukai tulisan kita. Semangat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Switch to mobile version