Setiap Selasa, tulisan Kang Abik di harian Sindo hampir pasti kubaca. Dan dari sekian buah pikirannya, tulisan bertajuk Dendam Kemiskinan yang dimuat hari ini lah (16/12/08) yang mampu menggerimiskan hatiku.
Bukan lantaran ceritanya mengambil latar Grobogan dalam sebuah perjalanan dari Semarang ke Pati–yang merupakan daerah asalku–tapi adalah pesan moral yang tersirat dari untaian paragrafnya dan pesan tersurat di akhir cerita.
Read the rest of this entry »
Baru kemarin aku posting di blog tentang repotnya membagi waktu, hari ini aku mendapat keluhan yang sama. Bahkan kalau dipikir-pikir, kondisi sahabatku itu lebih tidak menguntungkan dariku. Saat aku silaturahmi ke rumahnya, dia sedang tak enak badan. Kurang tidur, banyak kerjaan. Tubuh kurusnya tampak semakin ringkih saja.
“Semua-muanya aku yang ngerjain Mbak,” akunya. “Si Abi (maksudnya suaminya) hanya tahu beresnya saja. Padahal aku kan juga kerja. Kemarin aja ditegur bos karena nggak ngasih laporan tiap harinya. Aku ingin curhat, tapi sama siapa? Apa semua perempuan mengalami seperti ini?”
Aku tersenyum. Keluhan semacam itu, tidak hanya sekali ini kutemui. Bahkan aku sendiri pernah mengalami
Read the rest of this entry »
Dua anak segera menghampiri Ais begitu gadis kecil tujuh tahun itu menapak koridor kelas. Kasak kusuk, perhatian mereka tersedot ke isi tas Ais. Seolah tak sabar untuk segera melakukan transaksi mereka berusaha membuka resleting tas. Sementara Ais, mencuri pandang dengan sedikit segan ke arahku. Sesampainya di kelas, ketidaksabaran itu memuncak.
“Lupa, nggak bawa,” kata Ais setelah tak menemukan apa yang dicarinya dari saku depan tasnya.
Tak banyak kata, salah seorang temannya yang kemudian kutahu kakak kelas bernama Kamila membantu dengan membuka bagian tas yang lain, mencoba menemukan apa yang sudah dinantinya. Meski dengan hasil yang sama, nihil.
Read the rest of this entry »
Judul : Middlesex
Penulis : Jeffrey Eugenides
Penerbit : Serambi
Cetakan I : Juni 2007
Tebal : 812 hal
Harga : Rp. 89.900,-
Pertama menemukan buku ini di Pesta Buku Jakarta awal Juli lalu aku langsung mengernyit dengan ketebalannya. Tak yakin apakah bakal tahan membacanya. Bahkan pujian yang terpampang di halaman depan pun tak kucicipi sedikit pun. Bagiku itu tak penting. Cukup sudah referensi yang kudapat dari acara Oprah Winfrey Show beberapa minggu sebelumnya. Read the rest of this entry »
Membaca berita tentang seorang pengasuh yang tega membunuh anak asuhnya yang masih keponakannya sendiri aku seketika teringat Yeni. Usia pengasuh itu sama dengan bekas pembantu rumah tanggaku itu, empat belas tahun. Dari sekian orang yang pernah ikut dengan kami, dia adalah yang termuda sekaligus yang tersingkat masa kerjanya, tak genap seminggu.
Read the rest of this entry »
Mengapa kita membutuhkan sahabat? Tentu bukan untuk sekedar berbagi cerita, entah itu duka maupun suka. Lebih dalam dari itu semua adalah mengecap hikmah yang terkandung di setiap cerita. Pembelajaran pada sebuah ruang kelas tak berbatas yang bernama kehidupan, hingga ruang kehidupan itu sendiri terenggut dari manusia.
Seperti serial sebelumnya dari komunitas Sekolah Kehidupan, Lukisan Kehidupan ini juga merupakan hasil kompilasi dari tulisan-tulisan lepas member milist SekolahKehidupan. Read the rest of this entry »
Siuman dari ‘pingsan’ menulis, aku memilih mengecek skedul tulisanku lebih dulu. Ternyata, selain ada beberapa tulisan jadi yang belum kutawarkan, beberapa yang ingin kurevisi lagi, juga ada beberapa yang tak berkabar berita.
Pekerjaan menulis, entah itu dalam bentuk buku atau dicetak di majalah dan koran, mengutip kata pak Bambang Trim, seperti orang lari maraton. Membutuhkan nafas panjang. Bukan hanya saat proses kreatif itu sendiri, namun juga ketika menawarkan dan menanti balasan ‘pinangan’—utamanya bagi penulis pemula sepertiku. Read the rest of this entry »
“Ma, aku mau tanya sesuatu. Boleh?” mata bening itu menatapku penuh pinta. Kepalanya menengok ke belakang ke arahku. Sementara tubuh dan tangannya masih memeluk guling membelakangiku.
Aku segera bersiaga. Jangan-jangan mau tanya soal proses konsepsi lagi. Bakalan kesulitan lagi nih, pikirku. Tapi apa pun itu, aku tak boleh memberangus rasa ingin tahunya bukan? Jadi, kujawab dengan harap pertanyaannya tak sulit semacam konsepsi. “Tanya apa Sayang?” Read the rest of this entry »