Di yang dimaksud, bukanlah sebuah nama apalagi nama seorang aktor atau figur selebritis yang mencuri banyak hati penggemarnya. Di yang dimaksud adalah di-nya Pak Yus Badudu atau Gorys Keraf atau para pakar tata bahasa Indonesia lainnya.
Pastilah bahwa menulis bukan urusan yang enteng. Ketika belajar menuliskan huruf dan kata dalam bahasa Indonesia sejak sekolah dasar, masih banyak sekali kesulitan menulis yang dihadapi sampai nanti telah menjadi sarjana strata sekian sekali pun.
Read the rest of this entry »
Saya peminum kopi. Bagaimana dengan anda? Mungkin bukan soal kopi bermerek atau yang demikian eksotik; kalau saya, sekedar seharum wanginya kopi sejenis merk Kapal Api pun sudah cukup.
Cuma, kalau anda ingin tahu cerita penggemar kopi yang sesungguhnya, anda perlu menonton film “Bucket List“-nya Jack Nicholson dan Morgan Freeman. Ini bukan untuk promosi film yang tidak ikut heboh dalam nominasi Oscar bulan Februari 2008 ini. Akan tetapi, tidak lain karena di dalam film tersebut disebut-sebut tentang kopi luwak (civet coffee), yang dilafalkan oleh lidah baratnya milyuner Edward Cole (Nicholson) sebagai “coffee luwek”.
Read the rest of this entry »
Ironi bisa terjadi serta merta, tanpa niat apa-apa.
Beberapa waktu lalu, seorang perempuan muda di awal 20-an yang menenteng tas tangan dan headphone MP3 yang menempel di kedua telinga, naik ke dalam bis dan duduk tepat berhadap-hadapan dengan saya. Ia beringsut mematut posisi duduk di kursi bis kota, dengan wajah acuh, musik melantun di telinga. Tak ada yang istimewa, kecuali bahwa ia memang gemuk sekali. Postur yang lazim terlihat di negeri Paman Sam ini.
Yang menjadi ironi adalah bahwa ia duduk tepat di bawah platform langit-langit bis yang memajang iklan layanan masyarakat yang mengajak peran serta masyarakat dalam menangkal masalah obesitas. Prevent Childhood Obesity, begitu tertulis. Memang targetnya anak-anak. Dan di sebelah tulisan itu terpampang gambar junk food yang lezat berikut fries yang mengkilat berminyak. Read the rest of this entry »
Kedua tangan yang kita miliki masing-masing memiliki lima jari. Namun, dari kesepuluh jari yang ada, cukup banyak simbol yang dapat dihasilkan, bahkan amsal yang dapat dijadikan perbandingan.
KH Toto Tasmara dalam ceramah Pesantren Kilat (yang diberikannya di Los Angeles) menyusun kedua tangan berdempetan dengan melipatkan jari tengah. Lalu digerak-gerakkanlah kedua ibu jari saling beradu sedangkan pasangan jari-jari lain diam di tempat; lalu giliran jari telunjuk; kemudian kelingking. Semua mudah dilakukan. Namun, ketika yang digerak-gerakkan pasangan jari manis, ternyata tidak mudah atau bahkan tidak bisa.

Tangan bertemu tangan, saling menggenggam. Itulah bersalaman atau berjabat tangan, yang merupakan ekspresi ramah tamah yang paling umum di dunia.
Semua bangsa pasti mengerti maknanya. Walau pun budaya lokal dapat berlainan, namun saking mendunianya jabat tangan, maka semua orang pasti mengenalnya sebagai bahasa tubuh penyampaian salam.
Konon, bersalaman adalah pernyataan sikap damai; bahwa masing-masing hampa tangan dan tidak memegang atau menyembunyikan senjata. Artinya, bersalaman bertolakbelakang dengan sikap bermusuhan. Read the rest of this entry »
Dulu, waktu mahasiswa, ada seorang anak laki-laki kecil kelas 5 atau 6 SD yang memandang saya dengan ekspresi agak kagum. Bukan karena apa-apa, tetapi karena saya memakai kacamata.
“Bang, abang pasti orang pintar, ya?”
“Kok? Maksudnya bagiamana?” tanya saya.
“Abang kan pakai kacamata!” Saya masih belum maklum benar.
“Orang pakai kacamata kan pintar?”
SEBAGAI sebuah pekerjaan rakyat jelata, adakah hubungan antara tukang cukur atau tukang pangkas dengan kekuasaan?
Hernando Tellez, seorang pengarang asal Colombia, dalam sebuah cerpennya “Just Later, That’s All” (Espuma ye nada mas), bercerita tentang peristiwa potong rambut yang dramatis seorang pemimpin militer, Kapten Torress, yang otoriter dan dimusuhi rakyat. Si tukang cukur yang berjiwa revolusioner saat memegang pisau cukurnya yang tajam mengkilat dihadapkan pada sebuah ujian batin yang intens; sebuah dorongan kuat untuk dengan ringkas menyayatkan bilah tajam pisaunya ke urat leher pemimpin yang dibenci itu.
Pembeli adalah raja, katanya.
Demikian kata-kata sakti itu; bahwa pelayanan harus diberikan yang sebaik mungkin bagi pelanggan. Seringkali hal itu dijadikan sebagai motto bisnis, yang selalu disebut-sebut dalam semua buku pemasaran. Tetapi, sampai sejauh mana sebetulnya batas kesaktian dari motto itu di lapangan? Apakah sebagai raja, kita dijamin dapat menghendaki apa saja?
Saya kira salah satu batu uji yang membuktikan pentingnya konsumen adalah soal pemenuhan jaminan/garansi, termasuk pemulangan barang. Logikanya sederhana: Ketika penjual ingin mendapatkan pelanggan, maka langkah-langkah pesuasif mulai dari daya tarik iklan sampai pelayanan yang ramah dan sopan selama proses transaksi merupakan hal yang jamak saja. Pelanggan toh harus dibuat nyaman, baru jual-beli berlangsung baik.
Pertanyaan sebenarnya adalah bagaimana pelayanan purna jual (after sales) setelah transaksi berakhir? Apakah setelah ijab-kabul usai, barang di bawa keluar dari toko, maka seluruh urusan selesai? Bagaimana soal jaminan dan kebijakan pemulangan atau penggantian barang yang rusak (return policy)? Bagaimana kalau ternyata barang yang baru dibeli kita ingin tukar atau kembalikan?
Read the rest of this entry »
PenulisLepas.com is powered by WordPress Using Redzonea Sponsored By Read Article

