Penulis: Purwono
Fasilitator Masyarakat Pengembangan Perpustakaan di Kabupaten Banyumas
Minat Baca di Indonesia masih Tertingal Jauh
Seandanya semua orang ditanya “Apakah kita harus membaca ?” saya yakin hampir semua orang akan menjawab “harus” kecuali orang gila atau orang tidak waras, selanjutnya kalau pertanyaannya dirubah “Apakah kita harus membaca ? “ maka jawabannya masing-masing orang berbeda tapi kalau semua jawaban disimpulkan semuanya menyampaikan bahwa membaca itu penting dan diperlukan selain itu dengan membaca kita pun mengetahui dapat menambah ilmu pengetahuan.
Dewasa ini pembinaan minat baca merupakan hal yang sangat penting tetapi seolah dilupakan orang, kita begitu percaya kepada sekolah tempat anak-anak kita belajar, kita acuh apakah kepandaian membaca anak kita benar-benar baik atau baru biasa-biasa saja. Pembinaan selanjutnya orangtualah yang harus mengajari anaknya agar mereka menjadi pembaca yang baik . Agar mereka menjadi “kutu buku” haruslah dibimbing, dan kita juga harus memilihkan bacaan yang baik , jika salah memilih buku bacaan hasilnya akan bertolak belakang, bukannya mencintai buku melainkan membeci buku bahkan tidak tahu arti penting dari sebuah buku. Buku bacaan membuat kita berfikir dan dari sanalah kita dapat meningkatkan kecerdasan , orang menjadi cerdas kalau banyak membaca.
Masalah minat baca dikalangan anak-anak maupun orang dewasa di negeri ini sudah banyak ditulis dikoran, maupun majalah, sebagai topik penelitian atau makalah untuk diseminarkan. Pernah disampaikan oleh Drs. H. Athaillah Baderi Pustakawan Utama Perpusnas RI dalam makalahnya “Kalau kita boleh menghitung-hitung biaya seminar yang pernah dilaksanakan di negeri ini barangkali sudah dapat mendirikan sebuah perpustakaan megah di Ibukota Negara Republik. Namun topik ini tetap menarik dan actual , mengapa ? karena setelah begitu banyak ditulis dan dibicarakan masih saja belum tampak peningkatan minat baca yang signifikan. Indikator rendahnya minat baca adalah dihitung dari jumlah buku yang diterbitkan , memang masih jauh dibawah penerbitan buku di Negara berkembang lainnya seperti Malaysia, Singapura apalagi India atau Negara-negara maju lainnya.
International Association for Evaluation of Educational ( IEA ) pada tahun 1992 dalam sebuah studi kemampuan membaca murid-murid sekolah dasar kelas IV pada 30 negara di dunia, menyimpulkan bahwa Indonesia menempati urutan ke-29 setingkat di atas Venezuela. Peta di atas relevan dengan hasil studi dari Vincent Greannary yang dikutip oleh World Bank dalam sebuah Laporan Pendidikan “Education in Indonesia from Crisis to Recovery” tahun 1998, hasil studi tersebut menunjukan bahwa kemampuan membaca anak-anak kelas VI sekolah dasar kita, hanya mampu meraih kedudukan paling akhir dengan nilai 51,7 setelah Filipina yang memperoleh 52,6 dan Thailand dengan nilai 65,1 serta Singapura dengan nilai 74,0 dan Hongkong yang memperoleh 75,5. Berdasarkan laporan UNDP tahun 2003 dalam “Human Development Report 2003” bahwa Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Indeks – HDI) berdasarkan angka buta huruf menunjukan bahwa “Pembangunan Manusia di Indonesia” menempati urutan yang ke 112 dari 174 negara di dunia yang dievaluasi, sedangkan Vietnam menempati urutan ke 109 padahal Negara itu baru saja keluar dari konflik politik yang cukup besar, namun Negara mereka lebih yakin bahwa dengan “membangun manusianya” sebagai prioritas terdepan akan mampu mengejar ketinggalan yang selama ini mereka alamai. Melihat beberapa hasil studi di atas dan laporan UNDP di Indonesia , ini adalah akibat membaca belum menjadi kebutuhan hidup dan belum menjadi budaya bangsa kita.
Faktor-faktor Penghambat Minat baca
Pengalaman pahit telah menerpa bangsa kita pada pertengahan tahun dalam bulan Juli 1977, akibat krisis moneter yang melanda Kawasan Asia Tenggara dan Kawasan Asia Timur maka ekonomi kita telah tercabik-cabik. Krisis ekonomi kita terlalu panjang waktunya bila dibandingkan dengan Negara-negara lainnya seperti Korea Selatan, Thailand, Malaysia dan Singapura mampu mengatasi krisis ekonomi bangsanya relative pendek waktunya hanya sekitar 2 – 3 tahun saja. Mereka telah mencapai SDM yang kompetitif, unggul, kreatif, siap menghadapi segala bentuk perubahan social ekonomi, politik, budaya dan lainnya.
Tidak dipungkiri untuk meningkatkan budaya baca tidaklah mudah , banyak factor-faktor penghambatnya, mengapa minat baca di Indonesia rendah tetunya banyak hal yang mempengaruhinya : Pertama, pembelajaran di Indonesia belum membuat anak-anak / siswa/mahasiswa harus membaca (lebih banyak lebih baik), mencari informasi / pengetahuan lebih dari apa yang diajarkan. Kedua, banyaknya jenis hiburan, permainan (game) dan tayangan TV yang mengalihkan perhatian anak-anak dan orang dewasa dari buku. Ketiga, banyak tempat hiburan untuk menghabiskan waktu seperti taman rekreasi, tempat karoke, night club, mall, supermarket dan lain-lain. Keempat, budaya baca memang belum diwariskan secara maksimal oleh nenek moyang. Kita terbiasa mendengar dan belajar dari berbagai dongeng, kisah, adapt istiadat secara verbal dikemukakan orang tua, tokoh masyarakat penguasa zaman dulu, anak-anak didongengi secara lisan, tidak ada pembelajaran (sosialisasi) secara tertulis, tidak ada pembelajaran (sosialisasi) secara tertulis, jadi tidak terbiasa mencapai pengetahuan melalui bacaan. Kelima, sarana untuk memperoleh bacaan, seperti perpustakaan atau taman bacaan, masih merupakan barang aneh dan langka. Di hamper semua sekolah pada semua jenis dan jenjang pendidikan perpustakaannya masih belum memenuhi standar sarana dan prasarana pendidikan. Perpustakaan sekolah belum sepenuhnya berfungsi, jumlah buku-buku perpustakaan jauh dari mencukupi kebutuhan tuntutan membaca sebagai basis pendidikan serta peralatan dan tenaga yang tidak sesuai dengan kebutuhan, Padahal perpustakaan sekolah merupakan sumber membaca dan sumber belajar sepanjang hayat yang sangat vital dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.
Secercah Harapn dalam Kegelapan
Mengetahui begitu pentingnya budaya membaca, maka sejak saat ini juga mari kita mencanangkan gemar membaca untuk diri kita sendiri, keluarga dan masyarakat sekitar. Untuk meningkatkan minat baca harus dimulai dari usia sangat dini karena minat ini tumbuh sebagai hasil kebiasaan membaca, peran orangtua terutama ibu sangat penting dalam meningkatkan minat baca anak, kalau biasanya sebelum tidur anak-anak didongengi secara verbal, mulailah sekarang mendongeng dengan membaca sebuah buku, jadi si anak melihat sang ibu membaca sambil mendengarkan apa yang dibaca.
Metode pengajaran di sekolah dari TK sampai Perguruan Tinggi, harus diarahkan pada banyak membaca buku untuk mencari lebih banyak informasi / pengetahuan tentang apa yang diajarkan. Pengembangan kurikulum secara berdevirsifikasi khususnya dalam bahan kajian bahasa Indonesia harus memuat kegiatan pengembangan budaya membaca dan menulis dengan memberikan alokasi waktu cukup banyak untuk membaca.
Tiap sekolah apapun jenisnya, jurusan atau tingkatannya harus mempunyai perpustakaan karena perpustakaan memberi kesempatan kepada semua orang/murid/mahasiswa untuk menggunakan buku-buku koleksinya, dengan cara ini upaya meningkatan minat baca akan sangat terbantu. Selain itu di tiap-tiap Kabupaten / Kota perlu ada Perpustakaan Umum yang terbuka untuk seluruh penduduknya. Orang yang sejak di TK sudah dibiasakan membaca, setelah dewasa akan terus membutuhkan bacaan.
Penulis memberikan apresiasi yang tinggi pada beberapa stick holder yang telah berupaya keras untuk membudayakan gemar membaca, bebarapa waktu yang lalu juga diliput di bebrapa harian lokal, Perpustakaan Umum Kabupaten Banyumas menyelenggarakan lomba mengarang dan sinopsis yang merupakan agenda tahunan . Tentunya dengan kegiatan-kegiatan semacam ini sedikit banyaknya telah mendorong minat baca dikalangan siswa. Selain itu melalui Program MOTOR PINTAR / MOBIL PINTAR Solidaritas istri Kabinet Indonesia Bersatu Jakarta yang diberikan keberbagai daerah telah membuat terobosan upaya peningkatan minat baca dan juga lembaga-lembaga lain maupun perorangan yang banyak membuat kegiatan upaya peningkatan minat baca dengan munculnya taman bacaan – taman bacaan , rumah belajar atau pun rumah dunia.
Sekali lagi kita tentunya berharap pada seluruh stick holder atau pun pribadi-pribadi yang konsen dalam pengembangan minat baca mari bersama-sama bergerak memberikan secercah harapan guna membangun generasi mandiri, cerdas, kreatif menjadikan Negara Indonesia sejajar diantara bangsa-bangsa di dunia.
You must be logged in to post a comment.
PenulisLepas.com is powered by WordPress Using Redzonea Sponsored By Read Article


Semoga tulisan ini dapat menggugah kita semua bahwa membaca itu penting
terima kasih
Baca…Baca…
slogan itu dulu sering didengungkan disetiap iklan telivisi! namun sayang tidak diimbangi oleh kualitas dan harga buku yang memadai. kalau baca di perpustakaan, kadang juga buku2 yang kita cari juga belum ada. Tetapi, membaca adalah kebutuhan manusia.
Sebenarnya perpustakaan adalah tempat yang representatif untuk dapat meningkatkan minat baca serta bahan bacaan yang memadai. Namun dewasa ini, perpustakaan kadang hanya dijadikan sebuah syarat saja, hanya sebagai pelengkap. Buku-bukunya tidak update, materi bacaannya kadang membosankan. Persoalan tersebut memang persoalan yang klasik. Alasan tidak updatenya buku-buku yang ada di perpustakaan dikarenakan anggarannya dialokasikan pertahun untuk membeli buku. Padahal setiap bulan para penerbit buku sudah mengeluarkan buku-bukunya.
Akhirnya perpustakaan hanya dijadikan rujukan buku-buku pelajaran ataupun kuliah. Banyak para siswa atau mahasiswa jika mencari rujukan, mereka teringat dengan perpustakaan. Dan jika selesai mendapatkan bahan rujukan, mereka tidak ingat lagi dengan Perpustakaan.
Saya pun mengakuinya! Karena saya dulu sering sekali di perpustakaan daerah (saat kuliah). Tetapi buku-buku yang sifatnya umum, saya beli dengan menabung setiap bulannya. Minimal saya menganggarkan membeli 2 buku perbulan. Walaupun kantong pas-pasan, saya tetap mengalokasikan setiap bulannya. Dan alhamdulillah, setelah saya menjadi agen buku. Saya bisa membaca lebih dari 200 buku dalam 4 bulan secara gratisan. Enak juga!
Disisi lain, buku-buku yang saya jual pun masih dianggap mahal oleh konsumen saya! Tapi memang mahal dan tidak mahalnya sebuah buku itu relativ. Kalau ditangan orang2 menengah kebawah, buku seharga 20.000 itu mahal banget. Karena pembanding mereka adalah buku tulis. Kalau ditangan menengah keatas buku seharga 20.000 memang tidak membuat mereka rugi.
Namun yang perlu diperhatikan adalah, tingkat kemampuan dan daya beli masyarakat menjadi tolak ukur kita. Jumlah rakyat indonesia itu lebih dari 200 juta. Jadi jangan bangga kalau buku yang diterbitkan hanya sekitar 10 ribu eksemplar. Sangat jelas prosentasenya. Jadi kalau hanya di baca 10 ribu orang. Berarti 10 ribu tersebut hanya sisa dari jumlah penduduk Indonesia.
Minat budaya membaca memang wajib kita perjuangkan. Minimal ada 100 juta orang yang suka membaca, sehingga buku-buku yang beredar dapat dimurahkan harganya. Atau mungkin dimurahkan dulu harga buku, agar bisa menarik untuk minat dibaca? Karena beberapa kali saya ke tempat keramaian seperti alun-alun Sidoarjo. Disitu ada yang jual buku murah, banyak yang mendatangi stan buku tersebut. Walaupun ada yang sekedar melihat-lihat, atau bahkan saya pernah mendengar seorang cewek berada disamping saya mengatakan “wah ini buku yang saya cari2, disini harganya 10.000. Kalau ditoko buku harganya 25.000″ hehehe, ingat Alun-alun Sidoarjo. Insya Allah buku-buku tersebut bukan bajakan. Karena buku-buku itu sortiran dari orang-orang yang sudah membaca lalu dijual lagi! Wallahu’alam.
Menciptakan Budaya Gemar Membaca sebuah tema yang menggeltik dan merisaukan. Saya pikir apa yang telah diuraikan saudara Purwono berikut faktor-faktor yang mengirinya patut digarisbawahi kembali.
Kalau boleh saya menambahkan ada dua faktor yang ingin saya sampaikan dalam komentar ini, pertama faktor ekonomi dan kedua faktor psikologis. Faktor ekonomi kaitannya dengan budaya membaca dalam pengertian ini bisa dilihat dari sisi yaitu kemampuan seseorang itu sendiri untuk membeli buku dan masih tingginya harga jual buku. Harus diakui harga jual buku di negeri ini masih mahal. Banyak penyebabnya bisa berupa ongkos produksinya seperti biaya cetak dan antisipasi akan maraknya pembajakan buku sampai saat ini.
Saya setuju apa yang disampaikan Purwono bahwa budaya pop turut berperan menciptakan budaya konsumeristik di tengah masyarakat kita, sehingga motivasi seseorang untuk membeli buku menjadi tertangguhkan oleh kebutuhan lain yang tidak berkelanjutan. Maka ini dapat dikategorikan juga pada faktor psikologis seseorang (motivasi).
Seseorang yang memiliki rasa ingin tahu yang kuat dan ingin belajar sudah pasti akan mencari buku-buku yang laik untuk dibaca meski harus rela merogoh uang sakunya. Memang ada keperihatinan yang cukup merisaukan akhir-akhir ini terhadap generasi muda kita. Minat baca mereka sangat jauh dari yang diharapkan. Kondisi ini pernah diungkapkan oleh budayawan Banyumas, Ahmad Tohari dalam salah satu tulisannya di Harian Republika dalam kolom Resonansi yang isinya bahwa mahasiswa atau pelajar lebih risau jika pulsa HP nya habis ketimbang tidak memiliki buku referensi. Alih-alih ketika ingin membuat makalah atau tugas penulisan ilmiah tidak cukup banyak referensi yang mendukung tulisannya. Adapun jika meminjam di perpustakaan belum tentu tersedia karena sudah dipinjam orang lain.
Mungkin hanya ini yang dapat saya sampaikan semoga menjadi bahan diskusi yang menarik dan cita-cita kita semua untuk menciptakan lingkungan gemar membaca dapat terwujud. Wallohu ‘alam.
Hormat saya,
Author Jayiddan
Gunungputri, Bogor
Dunia pendidikan dihadapkan pada kondisi yang pasif, yaitu kurangnya gairah membaca pada anak. Hasil survei UNESCO tahun 1992 menyebutkan, tingkat minat baca rakyat Indonesia menempati urutan 27 dari 32 negara. Sedangkan survei yang dilakukan Departemen Pendidikan Nasional tahun 1995 menyatakan, sebanyak 57 persen pembaca dinilai sekadar membaca, tanpa memahami dan menghayati apa yang dibacanya.
Salah satu upaya pengembangan minat dan kegemaran membaca adalah dengan adanya distribusi buku. Buku merupakan salah satu syarat mutlak yang diperlukan untuk pengembangan program. Walaupun ada pendapat yang beranggapan bahwa sekolah merupakan komunitas yang dapat diandalkan untuk meningkatkan minat dan kegemaran membaca, namun demikian juga tidak dapat dipungkiri bahwa kebiasaan-kebiasan yang tertanam pada anak-anak semenjak kecil akan berlanjut menjadi prilaku-perilaku seseorang di kemudian hari. Bahkan masyarakat yang belum mengenal baca tulispun, akan mengenal buku dari anak-anaknya yang pulang dari sekolah dengan membawa buku-buku pelajaran.
Meningkatnya minat baca masyarakat ditengarai oleh semakin kondusifnya industri perbukuan nasional. Gagasan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bapak Wardiman Djojonegoro terkait dengan ada 4 (empat) pilar utama yang ada dalam industri perbukuan, yaitu: (1) pengarang, (2) penerbit (maupun percetakan), (3) distributor, dan (4) konsumen.
Dengan demikian berarti buku akan dirasakan sebagai suatu kebutuhan sama seperti kbutuhan pokok lainnya. Sehingga, masyarakat akan terus menerus mencari buku untuk dibaca atau dengan kata lain membaca buku menjadi begian kehidupan sehari-hari yang pada gilirannya akan membentuk reading society dan learning community.
$anchor$basketball Betting,final Four,final Four Betting,final Four Gambling,final Four Sports Book,final Four Sportsbook,march Madness,march Madness Betting,march Madness Gambling,march Madness Sports Book,march Madness Sportsbook,ncaa,ncaa Betting,…
$anchor$basketball Betting,final Four,final Four Betting,final Four Gambling,final Four Sports Book,final Four Sportsbook,march Madness,march Madness Betting,march Madness Gambling,march Madness Sports Book,march Madness Sportsbook,ncaa,ncaa Betting,nc…