Judul : Rahasia Kecerdasan Yahudi
Penulis : Aria Maheswara
Penerbit : Pinus Book Publisher – Yogyakarta
Cetakan I : Agustus – 2007
Tebal : xiii + 164 halaman
Tak dapat dipungkiri lagi bahwa kaum Yahudi kini telah menguasai berbagai lini dalam segala sektor terpenting di dunia. Apalagi kebijakan-kebijakan strategis negara adikuasa (AS) tidak lepas dari lobi-lobi Yahudi. Serasa sebuah kelompok yang amat kecil ini telah berhasil dalam menguasai dunia. Tidaklah berlebihan kemudian ketika ada ungkapan bahwa Yahudi saat ini telah memiliki negara baru yakni “negara dunia”.
Padahal di seluruh dunia jumlah Yahudi tidak lebih dari 15 juta-an orang saja. Tersebar sekitar 7 juta-an di Amerika, 5 juta di Asia, 2 juta di Eropa dan 100.000 di Afrika. Namun dalam prestasi dunia semisal hadiah nobel dalam bidang fisika, kimia dan kedokteran saja tercatat 12 persen jatuh ke tangan Yahudi. Tidak sekedar itu saja, konsep bank sentral, uang kertas, kapitalisme, komunisme dan memperdangangkan kembali barang-barang bekas adalah ide Yahudi untuk menciptakan kekuatan ekonomi yang menggurita.
Jika melihat asal-usul Yahudi maka tidak terlepaskan dari seorang yang bernama Ibrahim. Sosok yang dipandang sebagai nenek moyang tiga agama samawi (Yahudi, Kristen dan Islam). Nabi yang tampil dalam pertas sejarah sekitar 3.700 tahun yang lalu. Konon, Yahudi adalah bangsa pilihan Tuhan. Bangsa yang –mereka anggap– tidak lagi terikat oleh undang-undang bangsa lain. Dengan kecenderungan mengambil ayat-ayat kitab suci yang agresif, bangsa Yahudi membenarkan tindakannya untuk memusnahkan bangsa lain di dunia ini.
Kemudian muncullah apa yang disebut sebagai fenomena “ras super” dalam sejarah umat manusia. Salah satunya ialah ras kaum Yahudi. Alkitab juga menyebutkan bahwa bangsa Israel dalam sejarahnya merasa menjadi ras pilihan tuhan. Hal ini sebenarnya adalah wujud rendah diri mereka karena pernah menjadi budak bangsa Mesir selama bertahun-tahun. Sebagai wujud kompensasinya, nabi Musa mengangkat harga diri bangsa Israel dengan mengatakan bahwa mereka adalah umat pilihan Tuhan.
Sepanjang sejarahnya, Yahudi adalah kaum yang memang lekat dengan berbagai sifat buruk kemanusiaannya. Mereka tamak, sombong, dengki, dendam, pengecut, bengis dan licik. Dalam setiap zama mereka selalu menjadi benalu dalam peradaban karena sikap licik ketika lemah dan kejam saat berkuasa. Mereka selalu bermimpi untuk menjadi pengendali tunggul peradaban dan berbagai kepentingan duniawi. Hanya boleh ada satu dominasi yakni kepentingan Yahudi (E Pluralis Unum).
Yahudi selalu menindas yang lemah dan memperalat yang kuat. Sebelum AS berjaya, Yahudi terlebih dahulu telah berhasil memanfaatkan Inggris dan Prancis demi meraih cita-citanya. Meski untuk itu Yahudi mengawali dengan rencana yang tak murah dan pasti selalu menuntut tumbang ribuan atau bahkan jutaan nyawa, menyeret Inggris dalam perang saudara, serta memicu meletusnya Revolusi Prancis.
Selain di AS yang telah menjadi korbannya, kini kaum Yahudi telah memiliki rumah sendiri dengan mengusir kaum Muslim yang telah menetap di Palestina sejak waktu yang lama. Ratusan ribu Muslim Arab pun kemudian hidup di bawah kelayakan hidup manusia dalam tenda-tenda pengungsian di negara-negara Arab tetangganya, yaitu Yordania, Syiria, Libanon dan Irak. Kaum Yahudi tidak cukup puas dengan kesewenang-wenangannya dan tidak merahasiakan lagi rencana-rencana perluasan negaranya. Dengan mencoba mencaplok wilayah negara-negara tetangga.
Buku dengan judul “Rahasia Kecerdasan Yahudi” ini sungguh luar biasa. Perkembangan Yahudi dipotret oleh penulisnya dengan mencoba diteropong dari sisi-sisi yang lain. Sisi dimana bangsa Yahudi telah menjadi penguasa raksasa di dunia. Terlepas mereka meraihnya dengan licik, picik atau apapun alasannya yang jelas seluruh penduduk di muka bumi yang berjumlah sekitar tujuh milyar berlekuk lutut di kaki kaum Yahudi yang jumlahnya amat kecil. Setidaknya, dalam buku ini sedikit terbongkar jejak-jejak “kecerdasan” Yahudi.
Dalam balutan uraian sejarah yang cukup dramatis inilah, penulis dengan bahasa yang ringan dan singkat namun cukup padat telah membuka lebar pengamatan akan kaum Yahudi. Buku yang seharusnya mendapat apresiatif lebih. Bukan untuk menuduh yang tidak-tidak terhadap ras yang ada tapi tersirat penulis mengajak pembaca untuk tetap optimis. Dengan mengaca pada kunci kesuksesan akan “kejayaan” kaum Yahudi saat ini, pembaca diajak untuk melihat jauh ke depan keberlanjutan tantangan dalam tatanan masyarakat dunia esok.
*) Ahmad Makki Hasan
Mahasiswa program Pascasarjana UIN Malang dan Aktivis PMII Kota Malang.
You must be logged in to post a comment.
PenulisLepas.com is powered by WordPress Using Redzonea Sponsored By Read Article


perlu memang kita sadari, bahwa secara kwalitatif sumber daya manusia kita memang tertinggal jauh dari mereka (yahudi), ini dapat memacu kita untuk lebih berperan aktif dalam kancah bisnis global. dan senantiasa bekerja keras untuk dapat menempati lini-lini strategis dunia. kita tidak dapat hanya berpangku tangan saja, sementara setiap saat mereka juga terus berkembang. syukurlah kita dapat menyadari hal ini. dan kedepannya diperlukan langkah-langkah cerdas menghadapinya. kita turut prihatin saudara kita telah diobrak-abrik oleh bangsa yahudi. sementara negara-negara yang berpenduduk islam terbanyak tak dapat berbuat apa-apa.
Pun diulas di ayat suci bahwa Yahudi adalah “ras pilihan” namun semua itu berpulang lagi pada bagaimana suatu kaum berpikir dirinya sendiri seperti apa. Positif negatif kah itu maka terjadilah! Oleh karena itu kaum Islam WAJIB berpikir positif tentang diri & masa depan nya, jauhkan dari rasa rendah diri dari image negatif yg selama ini melekat. Bangkitlah mulai dari individu** spt rajin berzakat dengan ikhlas & menyalurkan pada yang berhak dgn jiwa amanah, membaurlah di masyarakat dunia tanpa kehilangan jati diri, dll. Akumulasi kekuatan individu muslim yg berusaha utk masa depan lebih baik berujung pada kebangkitan Islam. Yahudi menjadi superior BUKAN krn TAKDIR ! Islam terpuruk BUKAN krn TAKDIR ! Kitalah yg menentukan masa depan agama kita sendiri. Lepas dari apakah “kompetitor” agama atau kaum lain bersaing secara sehat atau licik, berterima kasih lah pada mereka. Hiduplah secara kreatif. Adanya kompetisi ini membuat hidup di dunia lebih bermakna
Saya baru saja selesai membaca dan mereview buku yang ditulis Aria Maheswara tentang ” Rahasia Kecerdasan Yahudi”. Menurut saya, apa yang dipaparkan penulis sangat subyektif dari satu sudut pandang saja, yakni dari sudut pandang Islam. Banyak fakta dari sejarah yang tidak ditulis secara akurat dan benar. Sungguh sangat disayangkan topik menarik ini dibahas secara “picik” dan sangat tidak ilmiah. Penulis banyak memasukan opini-opini pribadi yang subyektif,yang menurut saya dilandaskan pada kebencian kepada orang Yahudi sehingga menghasilkan tulisan yang lebih berupa opini pribadi penulis daripada sebuah bacaan ilmiah yang menyuguhkan informasi tentang topik yang sedang dibahas. Selajutnya isi dari buku hanya membahas sisi negatif berupa kelicikan dan kepicikan orang Yahudi saja. Ulasan dari penulis sangat tidak mendasar dan ilmiah serta kebanyakan hanya berupa pengulangan-pengulangan opini negatif dari bab-bab sebelumnya. Buku ini lebih bersifat hasutan kebencian yang tidak beralasan kepada bangsa Yahudi daripada isi yang seharusnya dibahas sesuai judul bukunya.
Label “Best Seller” pada buku sepertinya hanya menjadi slogan pelaris. Saya tidak melihat ada sesuatu yang menarik dari tulisan si Penulis. Buku ini tidak direkomendasikan untuk dibaca bagi yang mudah termakan hasutan picik !!!
sebaiknya buku yang menghujat jangan pernah diterbitkan lagi. kalau mau menggugat lewat buku, maka beberkan fakta sebersih mungkin, biarkan para pembaca menemukan sendiri maksud si penulis.
kata-kata menghujat akan memperburuk citra si penulis itu sendiri.lebih luas lagi dalam buku ini akan memperkuat opini nonmuslim bahwa islam sangat anti pati dengan orang-orang diluar mereka.
seharusnya jgn dilihat dari sudut pandang Islam saja, karena saya melihat buku ini isinya merupakan opini. dan juga mengkambinghitamkan yahudi sebagai sumber smua permasalahan di dunia.dr membaca buku ini saja langsung terlihat aroma kebencian terhadap kaum yahudi.saya kira buku ini lebih didasarkan dari fakta dan bukan hanya opini yang bersifat menghasut.
saudara levi lebih baik anda buat buku donk sebagai tandingan anda sendiri tidak jujur dan picik merasa sok ilmiah tetapi tidak menghasilkan apa-apa hayo tulis donk buat buku dengan referensi selengkap mungkin baik dari kitab anda maupun kitab orang Islam-sehingga kita jadi tahu fakta dan sejarah yang anda maksutkan-akurat dan benar hayo tunjukkan bung-kalau anda memahami perasaan umat yang sekarang ini lagi dihasut habis-habisan oleh kaum Yahudi anda tentunya memahami sudut pandang ini bukan sudut pandang ego anda yang kelihatan sekali tertanam kebencian-mengapa tidak sekalian saja anda counter para pengarang pengarang barat yang membeberkan kejahatan Yahudi supaya anda lebih hebat dan lebih memahami fakta data sejarah dari mereka para pengarang barat-hayo bung tak tunggu bukumu kalau tidak anda cuma omong doang
saudariku anindita memang benar tapi satu hal yang memng harus diingat seandainya kompetitif atau persaingan atau kemajuan suatu kaum bila dilakukan secara fair tanpa hasutan kelicikan.fitnah-Insya Allah Islam yang akan menang dari sudut pandang manapun-Kata seorang Ulama yang mumpuni umat Islam mundur karena meninggalkan kitabnya oleh karena inilah mereka Zionis Yahudi punya cara,rencana dan tindakan untuk menjauhkannya tentu saja dilakukan dengan licik,fitnah hasutan dengan segala cara
Rohedi tertipu Ilmuwan Yahudi
Komentar saya ini barangkali artikel pertama di muka bumi ini yang mengusik kunci sukses Kejayaan Kaum Yahudi.
Memang benar bahwa sebagian besar peletak dasar basic sains itu adalah Ilmuwan-ilmuwan yang berasal dari kalangan Yahudi. Bahkan kita kaum Indonesia jangan memungkiri kalau pengembangan Teknologi yang kita nikmati hingga saat ini juga dikuasi oleh kaum Yahudi. Bagaimana kiprah kaum Indonesia ke depan?
Salah satu kunci sains dunia ada pada teorema Pythagoras. Saya meyakini kalaulah sebagian besar dari visitor penulislepas.com ini, dan bahkan para pembaca dari komunitas lainnya hanya tahu rumus Pythagoras itu untuk menentukan panjang sisi miring segitiga siku-siku. Padahal sejatinya tidak untuk itu saja, rumus panjang siring (baca sisi miring) segitiga siku-siku itu sangat krusial perannya dalam pengembangan ilmu diferensial dan persamaan diferensial. Apa produk yang dihasilkannya? Tentu yang berkait langsung adalah teori relativitasnya Pak Einstein, sedangkan yang tidak berkait langsung adalah formula Planck untuk radiasi benda hitam (black body radiation) sebagaimana yang saya paparkan di alamat-alamat berikut: http://rohedi.com/content/view/32/1/,
http://rohedi.com/content/view/34/26/, dan
http://rohedi.com/content/view/33/26/.
Lantas apa yang akan saya usik? memangnya teorema Pythagoras itu salah? Kalau hanya untuk menghitung panjang siring segitiga siku-siku jelas tidak ada yang salah. Fakta ini diperkuat oleh info dari ariaturns.wordpress.com yang bahwa hingga kini dunia memiliki 79 cara berbeda untuk membuktikan rumus siring sakti itu. Adakah salah satu diantara pembukti teorema Pythagoras itu yang berasal dari kaum Indonesia? Insya Allah tidak ada.
Pythagoras memang filosof besar. Rumus sederhana yang beliau lontarkan telah memaksa bangsa china berpikir lebih dari 1000 tahun untuk membuktikan yang pertama kalinya di dunia ini. Umat Islam tempo dulu menyebut Pythagoras pemimpin kaum Bahai, yang konon terlahir di sekitar 500 tahun sebelum kelahiran Almasih. Siapa kaum bahai itu? mereka adalah kaum pemuja angka 19 (tapi maaf bukan dewa 19) seperti yang saya sitir di http://math152.wordpress.com/2008/10/20/srinivasa-ramanujan/#comment-212, ketika mengomentari kegeniusan Srinivassa Ramanujan seorang matematikiwan India.
Namun, apapun kehebatan suatu teorema tentu ada kelemahannya. Apa kelemahan teorema Pythagoras itu? Kelemahannya hanya satu. Ia telah menipu saya (baca:Rohedi), karena setelah Rohedi menemukan Teknik Modulasi Stabil (baca:SMT) pemecah teknik baru pemecah persamaan diferesial biasa orde 1, ternyata Pythagoras telah meletakkan kesalahan besar, karena formula tangent yang kita kenal selama ini tan(t)=sin(t)/cos(t) tidak konsisten dengan formula tangent produk SMT tan(t)=sin(2t)/[1+cos(2t)] terutama untuk sudut 90 derajad, karena untuk t=pi/2 menghasilkan kesamaan . Lalu apa hubungannya dengan upaya mengantipasi dampak global warming? Insya Allah ada, karena SMT telah mengcreate Formula baru untuk radiasi benda hitam (baca:Formula Planck Baru) yang lebih lengkap dalam memetakan spektrum pancaran gelombang elektromagnetik yang betugas mengangkut panas matahari ke tempat tinggal kita. Silahkan anda baca paparan saya di bawah ini.
Pesan yang saya sampaikan ke depan marilah kita
anak bangsa Indonesia mensinergikan pemikiran dalam mengekplore metode baru sebagai terobosan baru dalam memecahkan berbagai persolan sains yang belum terpecahkan hingga saat ini. Diakui atau tidak Rohedi telah memulainya dengan tidak bosan-bosan memposting komentar di website matematika terkenal di mancanegara tertama yang bermarkas di USA. Mempubl;ikasi ke Jurnal ilmiah secara resmi? tentu itu cara elegan bagi seorang akademisi. Lalu mengapa belum dilakukan nya untuk mempublikasikan SMT itu? Sabar, sebagai penemuan, SMT sudah terpublikasi via jurnal LOKAL dan itupun Jurnal di Kantor saya sendiri, namanya Jurnal Fisika dan Aplikasinya (JFA) yang diterbitkan oleh Jurusan Fisika, FMIPA-ITS Surabaya pertiga bulan sekali. Dengar-dengar Rohedi akan mempublikasi aplikasi SMT secara resmi ke Jurnal kelas wahid di dunia segera setelah metode itu berikut Rohedi’s formulanya booming duluan di International Sciences community Internasional. Menulis Buku? wah itu sudah satu keharusan, tapi tentu tidak akan saya buat asal-asalan. Mohon doa restunya, semoga segala sesuatunya berjalan sesuai rencana dan satu hal senatiasa mendapa ridho Allah SWT, sehingga kelak membarokahi siapa saja yang menggunakan dan mengembangkan metode SMT tersebut.
Ini isi posting yang saya maksudkan:
“Aplikasi dahsat matematika dalam sains memungkinkan penemuan besar sebelum kita memiliki teknologi untuk mengujinya secara empiris (Teori relativitas Einstein adalah contoh yang terkenal). Dan ia adalah contoh mengapa matematika tidak hanya untuk matematikiawan”
Kutipan di atas adalah Pernyataan Prof.Nowak sebagaimana dipaparkan oleh Mr.Kuang01 yang diposting di Doing Mathematics, Math in the World,
Math and the Origins of Life
As a follow up to Elena’s post on symmetry in evolution, I saw this interesting article in the most recent issue of the Scientific American:
Sumber:http://www.sciam.com/ article.cfm?id=can-math-solve- origin-of-life
Responses
1. By: rohedi on December 29, 2008 at 1:04 pm
Oke, Saya setuju dengan anda Mr.khuang01, dan begitu pula pada Prof.Nowak atas penyataan beliau tentang betapa pentingnya peran matematika dalam menjelaskan berbagai gejala (baca:fenomena) alam. Kita harus ingat bahwa model matematika yang lazim digunakan untuk maksud itu adalah persamaan diferensial, baik yang bertipe biasa (mahasiswa menyebutnya persamaan diferenial biasa atau PDB, maupun yang bertipe parsial (yang dimaksudkan adalah persamaan diferensial parsial). Saya yakin, walaupun sudah tersedia beberapa metode pemecah persamaan diferensial yang telah mapan, tetapi kita tetap perlu mengembangkan metode alternatif, dengan harapan ia memberikan solusi bentuk lain yang lebih sempurna dalam menjelaskan suatu fenomena. Di sini saya tampilkan dua contoh yang layak untuk didiskusikan lebih lanjut.
Pertama adalah Persamaan Diferensial (baca : PD) arctangent yang berbentuk :
dy/dt=1+y^2
Kita tahu bahwa solusi PD arctangent untuk nilai awal t(0)=0 and y(0)=0 adalah fungsi tangent, yaitu y(t)=tan(t) atau y(t)=sin(t)/cos(t). Namun bila PD arctangent itu dipecahkan dengan metode SMT (kependekan dari Stable Modulation Technique) yang akhir-akhir ini saya posting pada alamat ini:
http://eqworld.ipmnet.ru/ forum/viewtopic.php?f=2&t=34&start=20,
saya dapatkan solusinya dalam bentuk :
y(t)=sin(2t)/[1+cos(2t)] ,
Tentu anda harus bisa membuktikan bahwa kedua fungsi tangent itu sama. Namun untuk t=pi/2 anda akan menghadirkan kesamaan 1/0=0/0. Nah, sehingga semisal teori L’Hospital tidak ada hingga kini, maka kita akan sepakat kalau matematika itu juga tidak eksak, bukan?
Contoh PD kedua adalah persamaan diferensial Bernoulli atau yang lebih populer dengan sebutan PD Bernoulli, yaitu
dy/dx+Py=Qy^n, for n ≠ 1
Jika anda memecahkan PD Bernoulli untuk nilai awal x(0)=x0 dan y(0)=y0 menggunakan cara linearisasi, maka anda akan mendapatkan Rohedi’s Formula I berikut :
y(x) = 1/[(1/y0^(n-1 )-Q/P )e^{P(n-1)(x-x0)} + Q/P]^(1/(n-1))
Namun SMT yang berdasarkan pada prinsip modulasi gelombang itu memberikan solusi dalam bentuk Rohedi’s Formula II berikut :
y(x)=[(P/2Q)^1/(n-1)][1+tanh(- P(n-1)(x-x0)/2 +atanh((2Q/P)y0^(n-1) -1) ) ]^1/(n-1)
Selanjutnya jika kita gunakan kedua Rohedi’s Formula itu untuk memecahkan model persamaan diferensial “energi dalam” radiasi benda hitam (black-body radiation) sebagaimana dijelaskan di http://rohedi.com/content/ view/31/26/, Rohedi’s Formula I menghasilkan Formula Planck untuk radiasi benda hitam yang telah kita kenal selama ini, yaitu :
U(T) = ћω / [exp(ћω /kT) - 1]
Namun, formula kedua menghasilkan formula Planck yang baru yaitu :
U(T) = 0.5 ћω [ tanh{0.5ћω /kT - i¬/2} - 1]
Anda tahukan, manakala Pak Einstein memverifikasi fenomena radiasi benda hitam itu menggunakan sekumpulan penggetar harmonis? Formula Planck yang lama hanya dapat menjelaskan kita nilai beda energi antar dua tingkat tenaga suatu penggetar harmonis sebesar ћω. Namun formula Planck yang baru tidak saja memverifikasi bahwa energi terendah penggetar harmonis itu senilai 0.5 ћω, tetapi juga menjustifikasi bahwasanya penggetar harmonik yang terlibat dalam penjelasan radiasi benda hitam itu sangatlah banyak jumlahnya, yang diketahui dari hadirnya П/2 sebagai representasi dari nilai beda fase antar dua tingkat energi yang berdekatan.
Tentu saja U(T) di atas adalah energi internal radiasi benda hitam dalam kesetimbangan. Pertanyaan berikutnya berbentuk apa untuk keadaan di luar kesetimbangan? Saya berikan informasi bahwa tedapat kemungkinan pengerahan gangguan luar terhadap representasi PD dari Formula Planck baru tersebut.
Dengan fitur yang spesial ini, saya percaya bahwa formula Planck yang baru kelak dapat digunakan tidak saja untuk menjelaskan bagaiman cara mengatasi dampak pemanasan global, melainkan dapat digunakan dalam eksperimen pembangkitan gelombang yang kecepatannya dapat diatur.
Semoga penjelasan di atas bermanfaat untuk anda sekalian.
Terima kasih atas perhatiannya. Mohon koreksinya bila terdapat kesalahan.
Salam
Rohedi.
%%%%%%%%%%%%
Paparan di atas sekaligus mewakili visi saya dalam menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang bermartabat dalam hal keilmiahannya sehingga dapat berkontibusi dalam menjadikan kehidupan ini menjadi lebih baik.
Akhirnya dari saya Ketua ROHEDI LAboratory Surabya
” Selamat Tahun Baru 2009 ”
Mohon maaf bila ada yang tidak mengkenankan.